Polemik dan Tantangan Dunia Konstruksi di Indonesia

Setelah melalui krisis ekonomi 1997, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara Asia dengan ekonomi yang semakin stabil dengan capaian peningkatan yang sangat signifikan menyentuh angka 6,5%. Hal ini tentu berdampak kepada semua sector, salah satunya adalah industry konstruksi.

Layaknya sebuah negara berkembang, Indonesia memiliki skala pasar di bidang konstruksi yang sangat pesat selama 20 tahun terakhir dan di masa yang akan datang. Investasi untuk pembangunan jadi fokus pemerintah. Misalnya pada 2008 silam, pemerintah menghabiskan kurang lebih 35 triliun rupiah hanya untuk pekerjaan jaringan jalan dan sumber daya air.

Upaya pembangunan ini masih terus berlanjut hingga saat ini dan jadi sorotan utama program kerja pemerintahan Joko Widodo dengan nama Nawa Cita. Nawa Cita tahun ini mengalokasikan dana sebesar USD 30,23 miliar atau Rp 42 triliun untuk pembangunan infrastruktur.

Tingginya tingkat pembanguan setiap tahunnya akan berdampak positif terhadap kestabilan ekonomi Tanah Air dan secara langsung pada kesejahteraan masyarakat. Sayangnya, produktifitas pembangunan ini tak berjalan mulus seperti yang telah diperkirakan. Dari data Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melaporkan setidaknya terdapat 10 rentetan kecelakaan kerja sejak awal 2018 ini. Seperti yang terjadi pada proyek jalan tol Pemalang-Batang, runtuhnya gelagar di lokasi konstruksi jalan tol Pasuruan-Probolinggo dan runtuhnya jembatan jalan raya Bogor – Ciawi. Data Badan Manajemen Jaminan Sosial (BPJS) mencatat bahwa kecelakaan kerja dalam proyek konstruksi meningkat sebesar 10 persen selama tahun 2017 ke tahun 2018. Ragam peristiwa ini menimbulkan tanda tanya besar, apa yang keliru dari sistem pembangunan dalam negeri?

Sebagian besar penyebab kecelakaan kerja adalah kegagalan struktural dalam fase konstruksi karena kurangnya disiplin dari pihak pemberi kerja. Keinginan untuk mempercepat waktu proyek tidak sejalan dengan prosedur yang telah ditetapkan. Mengacu pada Handbook of Occupational Health and Safety, keselamatan pekerjaan proyek konstruksi dapat dilihat dari kepatuhan terhadap setiap tahapan pekerjaan mulai dari proses desain, peralatan hingga material.

PQI Consultant -“You should never view your challenges as a disadvantage. Instead, it’s important for you to understand that your experience facing and overcoming adversity is actually one of your biggest advantages”, Michelle Obama

Kegagalan yang paling mudah dideteksi adalah kegagalan struktural yang biasanya melibatkan tahap perencanaan seperti desain dan tahap pekerjaan termasuk investigasi geologi dan keterampilan di bidang struktural.

Pengawasan dari hulu ke hilir jadi polemik dan tantangan tersendiri. Kualifikasi pekerja, konsep awal pekerjaan, pelaksanaan dan monitoring harus diawasi dengan sangat ketat menggunakan sistem yang terpadu. Hal seperti ini yang jarang atau bahkan luput diterapkan di Indonesia.

Pentingnya untuk memperketat sistem manajemen dalam pelaksanaan kerja jadi salah satu solusi yang patut untuk diterapkan dengan disiplin. Mengingat keberlangsungan industri ini masih memiliki prospek panjang di Indonesia kedepannya. Setiap pihak mulai dari pemberi kerja hingga kontraktor memiliki tanggungjawab secara bersama-sama untuk meminimalisir segala bentuk kegagalan kerja yang dapat menimbulkan kerugian baik secara moral maupun materil.

how can we help you?

Contact us at the PQI Consultant office nearest to you or submit a business inquiry online.

JOIN US FOR TRAINING AWARENESS ISO 45001:2018